Berlangganan

Episode_Pena

Salam Pena

Sahabat semua....
Pena harus senantiasa menulis, agar pena mempunyai ketajaman pesan. Episode_Pena tempat untuk saling berbagi & menambah wawasan. Silahkan Sahabat semua memberikan saran, kritik, masukan atau 'say hello' dengan meng-klik & mengisi Buku Tamu :)

Agustus 24, 2009

Ramadhan Revolusioner : Be a New You in Alloh’s Way


“Ada banyak cara ketika Alloh SWT ingin meyadarkan kita dari kelalalaian, lalu menjadikan kita sebagai ‘orang baru’. Tiba- tiba kita merasa untuk hidup kedua kalinya”

Cahaya sang fajar masih terbit dari timur, awan- awan masih berarak di langit, lambaian pohon, gemerisik daun- daun, gemericik suara air masih setia melantunkan pujian bagi Sang Penggenggam Alam Semesta, Sang Maha Hidup yang tak bosan- bosannya memberikan sumber kehidupan bagi siapapun. Spirit ramadhan menghentak, sebagian surut, atau bahkan mengalami degradasi, ternyata sang waktu begitu teguh, mereka yang tidak berpacu, maka tertebaslah, di saat yang lain bisa menanam begitu banyak bibit- bibit kebaikan. Dan waktu terus bergulir, ramadahan kini menuju penghujungnya, lalu yang menjadi pertanyaan adalah : sampai detik, menit, dan jam ini revolusi apakah atau gerangan perubahan apakah yang telah kita dapatkan ?

Kenyataan sosial sekarang memaksa kita, suka ataupun tidak, untuk hanya berhadapan dengan dua pilihan : ikut arus dan terjebak dalam kelemahan zaman atau melantangkan seruan perlawanan, membangun kebangkitan bersama, yang akan saling menguatkan dan mengukuhkan.


Karena itulah, ramadhan selalu datang dengan membawa spirit kebaikan yang besar. Ramadhan sekarang adalah saat kita hembuskan kembali semangat Badar. Momentum ramadhan ini adalah saatnya kita menghitung kembali kenyataan umat, saatnya kita mengukur jarak antara diri, keimanan, ukhuwah, dan kebangkitan umat Islam. Spirit perubahan Ramadhan kita hari ini adalah semangat kebersamaan, semangat umat, dan bukan semangat orang per orang.

Rasululloh dan para shahabat menjadikan momentum Ramadhan sebagai momentum kemenangan. Kemenangan tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga dari segi fisik, tapi kemenangan maknawi melalui jiwa- jiwa yang senantiasa merindukan senandung kemenangan Islam di bumi-Nya. Kemenangan yang diperoleh, sungguh dahsyat luar biasa, karena kemenangan yang diperoleh bukan sekedar kemenangan individu tapi kemenangan kolektif sehingga tinta sejarah menulis umat muslim dimenangkan oleh Alloh dalam Perang Badar, kemenangan kota Mekkah (Fathu Mekkah), kemenangan atas serbuan tentara Mongol pada zaman Sholahudin Al Anyubi dan kemenangan- kemenangan lainnya.

Saudaraku semua,
Sungguh energi besar apakah yang bisa menggerakkan para sahabat rasul ?
Sedangkan kita di sini, sudah banyak ramadhan kita lalui, selama itu, apakah hanya sekedar formalitas tak berbekas dalam jejak- jejak hidup ? Ataukah kita selalu berfikir untuk meningkatkan kualitas pribadi kita, menghitung keberhasilan dan kegagalan sendiri, padahal apa yang terjadi pada diri kita adalah hasil kolektif dari sekitar kita. Maka sungguh, ketika niat ikhlas telah terbersit di hati, maka ujian berikutnya adalah amalan- amalan yang akan kita lakukan sebagai buah dari ilmu dan keikhlasan, bisa jadi ladang amal yang ada di hadapan kita adalah sebuah batu ujian sampai sejauh mana niat keikhlasan kita, atau jangan- jangan justru di tengah jalan kita menemukan uzub, riya sehingga perlahan- lahan kembali menggerogoti bangunan kebaikan yang coba ditegakkan. Ataukan ladang- ladang amal yang kita lakukan menjadi rekreasi bagi kita untuk memenuhi janji-Nya menuju derajat takwa dengan membawa efek perubahan bagi sekeliling kita ?

Saudaraku,
Saat iman melekat di dada, Alloh memuliakan mereka, di dunia maupun akhirat. Ternyata, kunci dari semua ini adalah lagi- lagi kembali kepada orientasi ketika kita melaksanakan amal. Ketika orientasi kita adalah karena Alloh dan Rasul, maka kita akan mendapatkan orientasi yang hendak kita tuju. Dan ketika orisinalitas orientasi ini bisa kita jaga dan aplikasikan dalam amalan- amalan kita, maka apatah lagi yang perlu kita takutkan, khawatirkan, dan mengapa kita harus merasa gentar dan lemah, karena Alloh telah menjanjikan kemenangan bagi mereka yang beriman dan tetap konsisten dengan keimanannya. Bukankah ini lebih baik daripada ambisi- ambisi pribadi, yang naudzubillah, mungkin sempat terbersit dalam hati- hati kita, bahkan ini lebih baik daripada dunia dan seisinya.

”Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Alloh, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Alloh mencintai orang- orang yang sabar” (QS Ali- Imron 3: 146)

Hawa ramadhan masih menyelusup, ketika disaat kita lalai, tidakkah kita memperhatikan begitu banyak cara-Nya untuk kembali membangun kesadaran kita. Ternyata amalan- amalan yang telah, sedang, atau akan kita lakukan bukanlah sebuah senda gurau atau permainan belaka. Akan ada banyak pengorbanan yang harus dipersembahkan, dan dari sinilah proses seleksi alam terjadi, mana mereka yang benar- benar tegar, ataukah perlahan tapi pasti mulai mengundurkan diri dari perjalanan menuaikan kebaikan untuk sesama. Bahkan ketika kita ingin mengubah keadaan di sekeliling kita menjadi lebih baik, maka sebuah harga mati perubahan tersebut harus dimulai dari diri kita sendiri. Sudah saatnya ramadhan yang tersisa ini kita jadikan sebagai intropeksi kolektif, semoga perubahan ba’da ramadhan tidak lagi sekedar perubahan diri, melainkan perubahan kolektif, perubahan produktif kehidupan di sekitar kita.

Dan ramadhan saat ini, ketika kita masih diberi kesempatan untuk masih bisa menjalaninya, ketika ramadhan- ramadhan yang lalu telah terlewat dan kita masih terlelap, maka sekaranglah saatnya titik tolak perubahan tersebut. Ramadhan yang sering dirindukan sebagai bulan yang senantiasa dinanti, bisa menjadi momentum spirit untuk berkontemplasi, momentum spirit perubahan. Sehingga Ramadhan is The Most Wanted Month, bisa menjadikan kita sebagai pribadi- pribadi yang bisa membawa nuansa perubahan di bulan- bulan lainnya, nuansa untuk senantiasa semangat dalam beramal menuai kebaikan.
Saudaraku semua,
Dengan berpuasa, seseorang lebih merasakan kedekatan dan pengawasan Allah. “Seluruh amal ibadah anak Adam baginya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untukKu dan Aku yang akan memberikan balasannya.” (Hadits muttafaqun alaihi). Selama berpuasa Allah dirasakan lebih dekat dengan hati seorang mukmin. Seperti diisyaratkan Imam Ali ra.secara.umum, ini adalah buah dari ditinggalkannya perbuatan-perbuatan dosa dan perbuatan jelek, kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu dan meningkatnya ketaatan kepada Allah selama bulan Ramadhan.
Serangkaian ibadah di bulan Ramadhan akan membentuk jiwa kebajikan pada diri mukmin. Ini akan menjadi bekal baginya dalam menjalani kehidupan di dalam dan pasca Ramadhan. Rasulullah saw mengukuhkan keyakinan mukmin akan keutamaan jiwa yang diliputi kebajikan ini dengan sabdanya, "Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukannya.” (HR Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Abu Daud)
Sehingga Ramadhan Revolusioner : Be a New You in His Way, yang sedang mendekati penghujungnya , bisa dijadikan sebagai bulan pemotivasian yang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh kita semua. Sungguh beruntunglah mereka yang menggunakan Ramadhan sebagai ajang peningkatan motivasi hidupnya. Lalu dengan modal Ramadhan ia mengisi hari-harinya di luar Ramadhan dengan semangat yang membara untuk beramal melesat ke angkasa kemuliaan dan keshalehannya ini menjadi inspirasi kebaikan bagi orang- orang di sekitarnya [Nisrina ].

Purwokerto, 12 Oktober 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar