Berlangganan

Episode_Pena

Salam Pena

Sahabat semua....
Pena harus senantiasa menulis, agar pena mempunyai ketajaman pesan. Episode_Pena tempat untuk saling berbagi & menambah wawasan. Silahkan Sahabat semua memberikan saran, kritik, masukan atau 'say hello' dengan meng-klik & mengisi Buku Tamu :)

Agustus 21, 2009

“Mencari Spirit Pendidikan Indonesia”

“Mencari Spirit Pendidikan Indonesia”

Bertepatan dengan tanggal 2 Mei, terkenang dengan seorang Pahlawan Bangsa, Pahlawan yang begitu peduli terhadap nasib pendidikan bangsa, seorang pahlawan yang begitu gelisah melihat kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, spirit beliau masih terasa dalam ruh “Ing ngarso sung tulodo (di depan memberikan teladan), ing madyo mangun karso (di tengah membangun motivasi), tut wuri handayani (di belakang memberikan inspirasi)”.

Pendidikan bukan hanya sekedar kata kerja “didik” yang diberi imbuhan pe-an,
bukan pula kata didik yang hanya melahirkan anak-anak didik mekanik, anak-anak didik yang berjalan seperti robot meninggalkan masyarakat. Tapi, pendidikan adalah sebuah proses dengan cita-cita besar untuk melahirkan manusia Indonesia seutuhnya, menjadi sebuah proses dari up grade SDM yang berkualitas. Dari potensi SDM inilah yang diharapkan mampu memanfaatkan segala potensi sumber daya alam (SDA) yang ada di negeri tercinta ini. Sehingga kemakmuran dan kesejahteraan yang dicapai oleh bangsa kita, bisa terasa dan dirasakan oleh seluruh rakyat negeri ini.

Upaya menjadikan pendidikan sebagai bagian solusi dari permasalahan bangsa ini adalah tugas kita bersama. Pemerintah yang mempunyai kewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum harus mampu dan amanah untuk merealisasikan pendidikan yang lebih berdaya guna. Karena pendidikan adalah hak bagi semua warga negara Indonesia, tidak memandang dia adalah anak pejabat, dokter, konglomerat, pengusaha, tukang becak, buruh, petani, pengemis atau dari Suku Jawa, Sunda, Batak, Asmat, Dhani dan lain sebagainya (dalam dunia pendidikan, tidaklah lazim ada pembedaan hak dan kewajiban berdasarkan status ekonomi, suku, agama, ras, antar golongan).

Realitas pendidikan Indonesia saat ini, membuat kita harus kembali mengevaluasi diri dan segera berbenah, survei membuktikan :
1. Berdasarkan laporan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bidang pendidikan, United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), yang dirilis pada kamis (29/11/07) menunjukkan, bahwa raport pendidikan Indonesia menduduki peringkat ke-62 dari 130 negara di dunia. Catatan prestasi ini, mengalami penurunan empat angka jika dibanding dengan tahun sebelumnya. Dengan demikian education development index (EDI) Indonesia (0.935) berada di bawah Malaysia (0.945) dan Brunei Darussalam (0.965) (www.opinibebas. epajak.org. 1/9/08).

2. Direktur Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Sudjarwo Singowidjojo Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) mengatakan saat ini penduduk Indonesia yang belum bisa membaca (buta aksara) mencapai 13,18 juta yang tersebar di seluruh Indonesia.

3. Berdasar survei PISA yang dilakukan oleh OECD tahun 2003, tes komprehensif dilakukan melalui pengukuran kemampuan mathematics, reading, science, dan problem solving menempatkan Indonesia di bawah rata-rata untuk semua kemampuan. Pendidikan terbaik diperoleh Finlandia, yang tak cuma jagoan mendidik anak-anak “normal,” tapi juga unggul dalam pendidikan bagi anak-anak yang lemah mental. Finlandia berhasil membuat seluruh anak didiknya cerdas, tak peduli yang normal atau yang lemah mental (Nofie Iman, 2007).

4. Pendidikan Indonesia yang masih berorientasi hasil, bukan proses. Pendidikan cenderung menekankan pada IQ, yang hanya menjejali anak-anak didik dengan deretan angka dan hafalan-hafalan teori tekstual dan sering mengabaikan aspek EQ dan SQ. Adanya pengabaian trilogi dasar pendidikan, yang mencakup aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif, sehingga kurangnya penekanan tentang pemikiran kritis dan pembentukan sikap mental positif.

5. Kualitas tenaga pendidik di negeri kita, yang ternyata masih menjadi pilihan kesekian diantara profesi-profesi bergengsi lainnya.

Realitas-realitas ini seharusnya menjadi pemicu bagi kita, seiring spirit 2 Mei untuk mengenang sosok “Ki Hajar Dewantara” yang dengan tulus membaktikan hidupnya untuk kemajuan dunia pendidikan. Pemerintah, di satu sisi, yang mempunyai peran utama untuk mengemban amanah pendidikan yang berkualitas untuk seluruh rakyat Indonesia dan merealisasikan 20 % anggaran pendidikan dari APBN. Dan di sisi lain, kita sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia, mempunyai peran masing-masing dalam meningkatkan kualitas pendidikan, baik formal ataupun non formal.

Pendidikan yang kita harapkan, tidak hanya melahirkan anak-anak didik yang hanya pintar menghafal teori-teori, menjadikan pendidikan moral hanya sebagai syarat untuk mengejar nilai. Tapi, pendidikan yang senantiasa menghentakkan kesadaran hati nurani anak-anak didik, tidak hanya sekedar sebatas hafalan, proses pendidikan yang menyatu dalam jiwa anak-anak didik dan menjadi “ahlak” yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat disekitarnya. Sehingga spirit “Ing ngarso sung tulodo (di depan memberikan teladan), ing madyo mangun karso (di tengah membangun motivasi), tut wuri handayani (di belakang memberikan inspirasi)” benar-benar menjadi jiwa dari dunia pendidikan kita, tidak hanya semboyan yang dilupakan maknanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar